Chat WhatsApp

Dari Chilled hingga Frozen, Pilih Cold Storage Sesuai Jenis Produk

shape image

Dari Chilled hingga Frozen, Pilih Cold Storage Sesuai Jenis Produk

 


Tidak semua produk membutuhkan cara penyimpanan yang sama. Ada produk yang cukup disimpan dalam kondisi dingin, ada yang membutuhkan suhu lebih rendah, dan ada pula yang harus tetap berada dalam kondisi beku.

Perbedaan kebutuhan tersebut membuat pemilihan cold storage tidak bisa hanya berdasarkan ukuran ruangan atau kapasitas penyimpanan. Jenis produk, target suhu, jumlah stok, lama penyimpanan, hingga aktivitas keluar masuk barang perlu diperhitungkan sejak awal.

Bagi restoran, hotel, distributor makanan, supplier seafood, bisnis frozen food, supermarket, maupun industri pengolahan makanan, cold storage dapat menjadi bagian penting dari sistem penyimpanan. USDA juga membedakan penyimpanan makanan mudah rusak dalam refrigerator dan freezer karena kebutuhan suhunya berbeda.


Kenapa Jenis Produk Menentukan Cold Storage?

Kesalahan dalam memilih ruang penyimpanan dapat membuat sistem pendingin tidak bekerja sesuai kebutuhan.

Produk segar yang membutuhkan suhu dingin tentu tidak selalu membutuhkan kondisi seperti produk beku. Begitu juga dengan frozen food yang membutuhkan suhu rendah agar tetap dalam kondisi beku.

Karena itu, langkah pertama sebelum membeli cold storage adalah mengetahui karakteristik produk yang akan disimpan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Jenis produk.

  • Kondisi produk saat masuk.

  • Target suhu penyimpanan.

  • Jumlah stok.

  • Lama penyimpanan.

  • Ukuran kemasan.

  • Frekuensi keluar masuk barang.

  • Sistem penataan produk.

Dari informasi tersebut, kebutuhan cold storage dapat ditentukan dengan lebih tepat.


Mengenal Chilled Room untuk Produk Segar

Chilled room merupakan ruang penyimpanan dengan suhu dingin yang digunakan untuk produk yang tidak harus berada dalam kondisi beku.

Jenis ruang ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis, seperti:

  • Buah.

  • Sayuran.

  • Minuman.

  • Produk dairy.

  • Bahan baku restoran.

  • Seafood segar.

  • Daging segar.

  • Produk makanan tertentu yang membutuhkan pendinginan.

Sebagai gambaran umum, USDA menyarankan makanan mudah rusak disimpan pada suhu refrigerator sekitar 40°F atau 4,4°C maupun lebih rendah. Namun, kebutuhan aktual tetap perlu mengikuti karakteristik produk dan ketentuan penyimpanannya.

Artinya, jangan menentukan suhu hanya karena suatu produk disebut sebagai “produk segar”. Setiap produk tetap perlu dilihat kebutuhan penyimpanannya.


Freezer Room untuk Produk yang Harus Beku

Berbeda dengan chilled room, freezer room digunakan untuk produk yang perlu disimpan dalam kondisi beku.

Jenis produk yang umum membutuhkan freezer antara lain:

  • Daging beku.

  • Ayam beku.

  • Seafood beku.

  • Frozen food.

  • Produk olahan beku.

  • Bahan baku makanan beku.

USDA menyarankan freezer dipertahankan pada sekitar 0°F atau -17,8°C untuk mempertahankan kualitas makanan beku.

Dalam bisnis, spesifikasi freezer tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan produk. Jangan hanya melihat angka suhu, tetapi juga perhatikan kapasitas dan aktivitas gudang.


Produk Segar Tidak Sama dengan Produk Frozen

Perbedaan utama chilled dan frozen terletak pada kondisi produk yang ingin dipertahankan.

Pada penyimpanan chilled, produk tetap berada dalam kondisi tidak beku. Sistem pendingin bertujuan mempertahankan suhu dingin sesuai kebutuhan.

Sedangkan pada penyimpanan frozen, produk harus tetap berada dalam kondisi beku.

Karena kebutuhan tersebut berbeda, sistem cold storage juga perlu dirancang berbeda. Memaksakan satu ruangan untuk berbagai jenis produk tanpa perencanaan dapat membuat pengelolaan suhu menjadi kurang optimal.


Cold Storage untuk Seafood

Seafood merupakan salah satu produk yang sangat membutuhkan perhatian terhadap rantai dingin.

Ikan, udang, cumi, kerang, dan produk hasil laut lainnya dapat membutuhkan penyimpanan dalam kondisi chilled maupun frozen, tergantung bentuk produk dan tujuan penyimpanannya.

Supplier seafood yang menjual produk segar tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan distributor seafood beku.

Jika produk akan dijual dalam kondisi segar, chilled room dapat dipertimbangkan. Jika produk dipasarkan dalam bentuk beku, freezer room lebih sesuai.


Cold Storage untuk Daging dan Ayam

Daging dan ayam juga memiliki kebutuhan penyimpanan yang perlu direncanakan berdasarkan kondisi produk.

Daging segar membutuhkan penyimpanan dingin, sedangkan produk yang telah dibekukan membutuhkan freezer.

Untuk bisnis yang menangani keduanya, pembagian ruang penyimpanan dapat menjadi pertimbangan penting. Jangan sampai produk chilled dan frozen ditempatkan tanpa sistem yang jelas.

Penataan berdasarkan kategori produk juga membuat proses pengambilan stok menjadi lebih mudah.


Cold Storage untuk Buah dan Sayuran

Buah dan sayuran memiliki karakteristik yang cukup beragam.

Tidak semua buah dan sayuran cocok disimpan pada suhu yang sama. Beberapa jenis produk bahkan dapat mengalami perubahan kualitas apabila disimpan pada kondisi yang tidak sesuai.

Karena itu, bisnis distributor buah dan sayuran perlu mempertimbangkan jenis produk yang paling banyak ditangani sebelum menentukan cold storage.

Selain suhu, kelembapan, sirkulasi udara, kemasan, dan lama penyimpanan juga perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Jadi, untuk bisnis hasil pertanian, memilih cold storage bukan hanya soal mencari ruangan yang paling dingin.


Cold Storage untuk Frozen Food

Bisnis frozen food memiliki kebutuhan penyimpanan yang lebih spesifik karena produk harus tetap beku.

Produk seperti nugget, sosis, kentang beku, seafood olahan, makanan siap masak, dan berbagai produk frozen lainnya membutuhkan kondisi penyimpanan yang konsisten.

USDA menjelaskan bahwa makanan yang disimpan terus-menerus pada suhu 0°F atau -17,8°C tetap aman, sedangkan kualitas seperti rasa dan tekstur dapat berubah seiring waktu.

Karena itu, pengelolaan frozen food tidak berhenti pada penggunaan freezer. Suhu, penataan stok, lama penyimpanan, dan sistem keluar masuk barang juga perlu diperhatikan.


Blast Chiller Berbeda dengan Cold Storage Biasa

Selain chilled room dan freezer room, terdapat pula sistem seperti blast chiller yang dirancang untuk menurunkan suhu produk dengan lebih cepat.

Jenis peralatan ini dapat digunakan dalam proses tertentu ketika produk membutuhkan pendinginan yang lebih cepat setelah proses produksi atau pengolahan.

Kecepatan pendinginan juga dapat memengaruhi kualitas produk. USDA menjelaskan bahwa proses pembekuan yang lebih cepat cenderung menghasilkan kristal es yang lebih kecil, sedangkan pembekuan lebih lambat dapat menghasilkan kristal yang lebih besar dan berpotensi memengaruhi tekstur produk.

Karena itu, blast chiller atau blast freezer lebih tepat dilihat sebagai bagian dari proses pendinginan atau pembekuan cepat, bukan sekadar ruang penyimpanan biasa.


Jangan Memilih Cold Storage Hanya Berdasarkan Kapasitas

Kapasitas memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Cold storage 10 ton misalnya, belum tentu memiliki desain yang sama untuk semua bisnis.

Dua usaha yang sama-sama menyimpan 10 ton produk bisa memiliki kebutuhan ruangan berbeda karena:

  • Ukuran kemasan berbeda.

  • Sistem pallet berbeda.

  • Produk memiliki bentuk berbeda.

  • Frekuensi bongkar muat berbeda.

  • Lama penyimpanan berbeda.

  • Target suhu berbeda.

  • Kebutuhan ruang kerja berbeda.

Karena itu, kapasitas sebaiknya dihitung berdasarkan kondisi operasional yang sebenarnya.


Perhatikan Suhu Produk Saat Masuk

Cold storage dirancang untuk mempertahankan kondisi penyimpanan, tetapi produk yang masuk juga perlu diperhatikan.

Produk yang masih memiliki suhu tinggi akan memberikan beban pendinginan yang berbeda dibandingkan produk yang sudah berada pada kondisi dingin.

Untuk produk yang baru selesai diproduksi atau diproses, terkadang dibutuhkan proses pendinginan terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang penyimpanan.

Hal ini menjadi semakin penting pada bisnis dengan volume produksi besar.


Jangan Memenuhi Cold Storage Secara Berlebihan

Ruang yang terlalu penuh dapat mengganggu sirkulasi udara.

Udara dingin perlu bergerak agar kondisi suhu di dalam ruangan dapat lebih merata. USDA juga menyarankan agar refrigerator tidak terlalu penuh karena udara dingin membutuhkan ruang untuk bersirkulasi.

Karena itu, penempatan produk harus memperhatikan posisi evaporator, jalur udara, rak, pallet, serta ruang untuk operator.

Cold storage yang besar tetap membutuhkan tata letak yang baik agar kapasitasnya dapat digunakan secara efektif.


Perhatikan Frekuensi Buka Tutup Pintu

Aktivitas gudang dapat memengaruhi kondisi suhu.

Bisnis distributor biasanya memiliki aktivitas keluar masuk barang yang cukup tinggi. Setiap kali pintu dibuka, udara dari luar dapat masuk ke dalam ruang penyimpanan.

Jika pintu terlalu sering dibuka atau dibiarkan terlalu lama, sistem pendingin harus bekerja untuk mengembalikan suhu ruangan.

Karena itu, desain pintu dan alur bongkar muat sebaiknya disesuaikan dengan aktivitas bisnis.


Insulasi Membantu Menjaga Kondisi Ruangan

Panel insulasi merupakan salah satu bagian penting dalam konstruksi cold storage.

Insulasi membantu mengurangi perpindahan panas antara bagian dalam dan luar ruangan. Karena itu, kualitas panel dan sambungannya perlu diperhatikan.

Pintu juga perlu memiliki sistem penutupan yang baik.

Jangan sampai investasi pada mesin pendingin yang sesuai tidak didukung konstruksi ruang yang baik.


Monitoring Suhu Perlu Dilakukan Secara Rutin

Pemilik bisnis sebaiknya tidak hanya mengandalkan angka pada pengaturan mesin.

Suhu aktual di dalam cold storage perlu dipantau secara berkala menggunakan alat ukur yang sesuai.

USDA menyarankan penggunaan termometer untuk memastikan refrigerator dan freezer mempertahankan suhu yang diperlukan.

Untuk bisnis dengan stok dalam jumlah besar, pencatatan suhu juga dapat membantu ketika melakukan evaluasi terhadap kondisi penyimpanan.

Jika terjadi perubahan suhu yang tidak biasa, pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat.


Satu Cold Storage untuk Semua Produk, Apakah Bisa?

Hal ini sangat bergantung pada jenis produk dan kebutuhan penyimpanannya.

Jika berbagai produk membutuhkan kondisi suhu yang sama dan kompatibel, penyimpanan bersama mungkin dapat dipertimbangkan.

Namun, apabila kebutuhan suhunya berbeda jauh, lebih baik mempertimbangkan ruang atau sistem penyimpanan yang berbeda.

Selain suhu, aroma, kelembapan, kemasan, serta risiko kontaminasi silang juga perlu diperhatikan.

USDA menekankan pentingnya memisahkan makanan mentah seperti daging, unggas, dan seafood dari makanan siap santap untuk mengurangi risiko kontaminasi silang.


Pilih Cold Storage Berdasarkan Aktivitas Bisnis

Pemilihan cold storage sebaiknya mengikuti cara bisnis bekerja.

Untuk restoran, akses cepat terhadap bahan baku mungkin menjadi pertimbangan.

Untuk distributor, kapasitas dan alur bongkar muat bisa menjadi faktor penting.

Untuk supplier seafood, kebutuhan chilled dan frozen mungkin sama-sama diperlukan.

Sementara itu, bisnis frozen food lebih membutuhkan ruang freezer dengan kondisi suhu yang konsisten.

Jadi, tidak ada satu desain cold storage yang otomatis cocok untuk semua usaha.


Hitung Kebutuhan Sebelum Membeli

Sebelum memesan cold storage, sebaiknya siapkan beberapa informasi dasar.

  • Pertama, tentukan produk yang akan disimpan.
  • Kedua, tentukan apakah produk membutuhkan chilled atau frozen storage.
  • Ketiga, hitung jumlah stok dan ukuran kemasan.
  • Keempat, tentukan pola keluar masuk barang.
  • Kelima, perhatikan ukuran lokasi dan ketersediaan listrik.
  • Keenam, pertimbangkan perkembangan bisnis sehingga kapasitas yang dipilih tidak hanya sesuai untuk kebutuhan saat ini.

Dengan perencanaan tersebut, cold storage dapat dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan operasional.


Pilih Cold Storage yang Sesuai, Bukan Sekadar yang Paling Besar

Cold storage berkapasitas besar belum tentu menjadi pilihan paling tepat apabila kebutuhan bisnis sebenarnya lebih kecil.

Sebaliknya, kapasitas yang terlalu kecil dapat menyulitkan ketika stok meningkat.

Yang lebih penting adalah mendapatkan keseimbangan antara kapasitas, suhu, jenis produk, tata letak, sistem pendingin, kebutuhan listrik, dan aktivitas gudang.

Dengan begitu, cold storage dapat digunakan secara lebih efektif untuk mendukung kegiatan bisnis.


Dari Chilled hingga Frozen, Pilih Cold Storage Sesuai Jenis Produk karena setiap produk memiliki kebutuhan penyimpanan yang berbeda.

Konsultasikan kebutuhan cold storage Anda sekarang.

Hubungi: 0812-3131-6315 (Pak Bai)

Posting Komentar

© Copyright 2022 Pabrik Cold Storage | TELP: 0812-3131-6315

Form WhatsApp

Isi Sesuai Dengan Estimasi Kebutuhan Anda.

Kirim WhatsApp