Sebelum Membeli Cold Storage, Ini Hal yang Perlu Dipersiapkan
Memiliki cold storage bisa menjadi langkah penting bagi bisnis yang mulai membutuhkan ruang penyimpanan dengan suhu terkontrol. Ketika jumlah stok semakin banyak, penggunaan freezer biasa atau ruang penyimpanan standar terkadang sudah tidak cukup untuk menunjang aktivitas usaha.
Namun, membeli cold storage tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan kapasitas atau ukuran ruangan. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sejak awal agar cold storage yang dipilih benar-benar sesuai dengan produk, kondisi tempat, kapasitas penyimpanan, serta aktivitas bisnis.
Perencanaan yang tepat juga membantu menghindari penggunaan ruang yang tidak sesuai, kebutuhan listrik yang kurang diperhitungkan, atau kapasitas penyimpanan yang terlalu kecil ketika bisnis mulai berkembang.
1. Tentukan Produk yang Akan Disimpan
Hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah menentukan jenis produk yang akan masuk ke dalam cold storage.
Setiap produk mempunyai karakteristik penyimpanan yang berbeda. Daging, ayam, seafood, frozen food, buah, sayuran, produk susu, dan berbagai bahan makanan lainnya tidak selalu membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama.
Karena itu, jangan langsung menentukan cold storage hanya berdasarkan ukuran. Informasikan kepada penyedia mengenai jenis produk yang akan disimpan sehingga sistem pendingin dapat dirancang berdasarkan kebutuhan sebenarnya.
Untuk produk makanan, pengendalian suhu menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi penyimpanan. USDA juga menekankan pentingnya menjaga suhu penyimpanan tetap sesuai dan melakukan pemantauan menggunakan termometer yang sesuai.
2. Tentukan Suhu Penyimpanan yang Dibutuhkan
Setelah mengetahui produk yang akan disimpan, tentukan target suhu penyimpanannya.
Apakah membutuhkan ruang chilled untuk produk segar atau ruang freezer untuk produk beku? Perbedaan kebutuhan suhu tersebut akan berpengaruh terhadap sistem pendingin, material panel, evaporator, kapasitas mesin, hingga penggunaan listrik.
Sebagai gambaran umum untuk penyimpanan makanan, USDA menggunakan batas sekitar 4,4°C atau lebih rendah untuk refrigerator dan sekitar -17,8°C atau lebih rendah untuk freezer. Namun, kebutuhan aktual bisnis tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik produk dan ketentuan penyimpanan yang berlaku.
Jadi, sebelum memesan cold storage, sebaiknya sudah diketahui terlebih dahulu produk apa yang akan disimpan dan suhu target yang diperlukan.
3. Hitung Kebutuhan Kapasitas Penyimpanan
Kapasitas merupakan salah satu bagian paling penting dalam persiapan membeli cold storage.
Jangan hanya menghitung berdasarkan jumlah stok hari ini. Pertimbangkan juga perkembangan bisnis dalam beberapa waktu ke depan.
Misalnya, saat ini bisnis membutuhkan ruang untuk menyimpan beberapa ton produk, tetapi jumlah pembelian dan distribusi diperkirakan meningkat. Jika kapasitas terlalu kecil, ruang penyimpanan akan cepat penuh dan aktivitas keluar masuk barang menjadi kurang nyaman.
Sebaliknya, kapasitas yang terlalu besar juga dapat membuat investasi awal dan kebutuhan operasional menjadi lebih tinggi dari kebutuhan sebenarnya.
Karena itu, hitung berdasarkan:
Jumlah produk yang biasanya disimpan.
Berat atau volume produk.
Frekuensi barang masuk.
Frekuensi barang keluar.
Lama penyimpanan.
Jumlah stok maksimum.
Perkiraan pertumbuhan usaha.
Perencanaan kapasitas yang baik akan membuat cold storage lebih sesuai dengan pola kerja bisnis.
4. Siapkan Lokasi untuk Cold Storage
Sebelum membeli, pastikan lokasi pemasangan sudah tersedia.
Cold storage membutuhkan ruang untuk bangunan atau panel penyimpanan, pintu, evaporator, sistem pendingin, serta area yang cukup untuk aktivitas bongkar muat.
Jangan hanya mengukur panjang dan lebar ruangan. Perhatikan juga tinggi bangunan, akses menuju lokasi, posisi pintu, jalur masuk barang, dan area di sekitar unit pendingin.
Lokasi yang terlalu sempit dapat menyulitkan proses pemasangan maupun perawatan. Karena itu, kondisi lokasi sebaiknya diinformasikan kepada penyedia sejak awal agar desain cold storage dapat disesuaikan.
5. Perhatikan Sirkulasi Barang di Dalam Ruangan
Cold storage bukan hanya tempat untuk menumpuk produk.
Barang harus dapat disusun dan dikeluarkan kembali dengan mudah. Karena itu, pikirkan bagaimana alur produk ketika masuk, disimpan, kemudian diambil untuk produksi atau pengiriman.
Hindari membuat susunan barang terlalu padat hingga mengganggu sirkulasi udara. USDA juga menyarankan agar ruang pendingin tidak diisi secara berlebihan karena udara dingin perlu bersirkulasi untuk membantu menjaga suhu penyimpanan.
Untuk bisnis dengan stok besar, penggunaan rak, pallet, atau sistem penataan tertentu dapat dipertimbangkan sesuai jenis produknya.
Dengan begitu, cold storage tidak hanya memiliki kapasitas besar, tetapi juga lebih mudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
6. Siapkan Kebutuhan Listrik
Cold storage bekerja menggunakan sistem pendingin yang membutuhkan pasokan listrik sesuai spesifikasi unit.
Sebelum membeli, sebaiknya cek terlebih dahulu kondisi listrik di lokasi. Informasikan kapasitas listrik yang tersedia kepada penyedia agar kebutuhan daya dapat diperhitungkan sejak awal.
Hal ini penting terutama untuk bisnis yang menggunakan beberapa peralatan secara bersamaan, seperti mesin produksi, freezer, mesin es, pompa air, lighting, dan peralatan lainnya.
Jangan sampai cold storage sudah siap dipasang tetapi instalasi listrik di lokasi belum mendukung kebutuhan operasionalnya.
7. Perhitungkan Frekuensi Buka Tutup Pintu
Aktivitas membuka pintu cold storage juga perlu diperhatikan.
Cold storage yang digunakan sebagai gudang distributor tentu memiliki pola penggunaan berbeda dengan ruang penyimpanan restoran atau usaha produksi. Semakin sering pintu dibuka, semakin besar pula pertukaran udara antara bagian dalam dan luar ruangan.
Karena itu, penyedia perlu mengetahui bagaimana aktivitas bisnis dilakukan setiap hari.
Informasi seperti frekuensi keluar masuk barang, ukuran pintu, jumlah pekerja, serta durasi pintu terbuka dapat membantu dalam menentukan desain dan sistem pendingin yang sesuai.
8. Persiapkan Sistem Monitoring Suhu
Membeli cold storage sebaiknya tidak berhenti pada pemasangan mesin pendingin. Sistem monitoring suhu juga perlu dipikirkan.
Pemantauan membantu pemilik usaha mengetahui apakah kondisi ruang tetap berada pada target yang telah ditentukan.
Untuk penyimpanan produk dalam jumlah besar, pencatatan suhu juga dapat membantu dalam evaluasi operasional. FDA menyebutkan bahwa fasilitas penyimpanan dingin perlu melakukan pemantauan suhu dan menggunakan perangkat pengukuran yang sesuai.
Dengan monitoring yang baik, perubahan suhu dapat lebih cepat diketahui sehingga tindakan dapat dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi lebih besar.
9. Tentukan Sistem Penyimpanan Produk
Sebelum cold storage dibuat, pikirkan bagaimana produk akan ditempatkan.
Apakah menggunakan pallet? Rak? Box? Keranjang? Atau langsung menggunakan kemasan tertentu?
Hal ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan ruang di dalam cold storage.
Selain itu, sistem penyimpanan juga sebaiknya memudahkan pengelolaan stok. Produk yang lebih dahulu masuk dapat ditempatkan agar lebih mudah diambil terlebih dahulu.
Konsep seperti FIFO dapat membantu bisnis mengatur perputaran stok, terutama jika cold storage digunakan untuk menyimpan berbagai produk dengan masa simpan yang berbeda.
10. Pertimbangkan Material dan Insulasi
Panel dan insulasi merupakan bagian penting dari cold storage karena ruang penyimpanan harus mampu mempertahankan kondisi suhu yang direncanakan.
Kualitas panel, ketebalan insulasi, sambungan antar panel, serta kondisi pintu perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan.
Jangan hanya melihat tampilan luar cold storage. Tanyakan material panel yang digunakan, sistem sambungan, jenis pintu, serta bagaimana sistem tersebut dirancang untuk kebutuhan suhu yang diinginkan.
Desain yang sesuai dapat membantu sistem pendingin bekerja lebih terkontrol selama operasional.
11. Siapkan Anggaran Selain Harga Unit
Sebelum membeli cold storage, buat perhitungan anggaran secara menyeluruh.
Harga unit bukan satu-satunya biaya yang perlu dipertimbangkan. Tergantung proyeknya, dapat terdapat kebutuhan tambahan seperti instalasi, kelistrikan, pengiriman, konstruksi pendukung, rak, pallet, sistem monitoring, maupun pekerjaan lain di lokasi.
Karena itu, sebaiknya tanyakan secara jelas apa saja yang sudah termasuk dalam penawaran dan apa saja yang menjadi biaya tambahan.
Dengan begitu, anggaran pembelian dapat dipersiapkan dengan lebih realistis.
12. Pilih Cold Storage Sesuai Perkembangan Bisnis
Cold storage merupakan investasi untuk mendukung aktivitas penyimpanan dalam jangka panjang. Karena itu, pemilihannya sebaiknya tidak hanya melihat kebutuhan hari ini.
Jika bisnis memiliki rencana meningkatkan volume produksi atau distribusi, kapasitas cold storage dapat direncanakan agar masih relevan ketika jumlah stok bertambah.
Namun, tetap hindari membeli kapasitas yang jauh melebihi kebutuhan tanpa perhitungan. Yang paling penting adalah menemukan titik yang sesuai antara kapasitas, jenis produk, suhu, luas lokasi, kebutuhan listrik, dan pola operasional.
13. Pilih Penyedia yang Bisa Membantu Perencanaan
Jika belum memahami spesifikasi cold storage, jangan hanya mencari berdasarkan harga.
Pilih penyedia yang dapat membantu menjelaskan kebutuhan kapasitas, suhu, panel, sistem pendingin, lokasi pemasangan, dan kebutuhan operasional.
Kami menjual cold storage untuk berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari penyimpanan produk makanan, seafood, daging, frozen food, buah dan sayuran, hingga kebutuhan penyimpanan dalam jumlah lebih besar.
Sebelum menentukan unit, kebutuhan Anda dapat dibicarakan terlebih dahulu agar spesifikasi cold storage dapat disesuaikan dengan kondisi usaha dan lokasi.

Posting Komentar